DEMI MASA




Kamis, 01 April 2010

7 KALIMAT YANG BISA MELUKAI HATI SI KECIL,

Mar2010 Diposkan oleh S.Nainggolan Label: BERITA, KELUARGA

Jangan bicara terlalu keras pada anak, karena bisa-bisa anak akan merasa sangat terpukul. Nah, kalimat apa saja yang sebaiknya Anda hindari?

Seringkali, tanpa sengaja orangtua berkata keras pada anak. Padahal, kata-kata keras bisa melukai bahkan menurunkan kepercayaan diri anak. Ingin contoh? Misalnya, “Mbok kamu itu mencontoh kakakmu!” atau “Buat apa menghabiskan waktu tanpa hasil?” Kata-kata di atas bisa membuat anak terluka dan sakit luar biasa. “Kata-kata yang kita gunakan bisa dirasakan lain oleh anak, bahkan pada bayi yang baru berusia 12 bulan. Pasalnya, di usia itu, anak pun sudah mulai membangun identitasnya.

Jadi, sebelum Anda mulai mencaci-maki, sebaiknya belajar menyensor kata-kata agar tidak membawa dampak buruk pada buah hati Anda. Bahkan pada saat marah, frustasi dan kelelahan sekalipun. Pilih betul kata-kata apa yang akan Anda sampaikan dan apa yang ingin Anda capai dengan kata-kata itu. Ingat, dengan kata atau kalimat yang lebih halus, Anda tetap bisa mendapatkan apa yang Anda mau, kok. Nah, di bawah ini kata-kata yang sebaiknya tak dilontarkan kepada buah hati Anda:

1. “Kamu kenapa, sih?"
Variasi lain dari kata ini antara lain, “Bandel amat, sih kamu. Bisa enggak, sih makan tanpa membanting sesuatu.”
Komentar seperti di atas menujukkan bahwa anak punya karakter tak pernah benar. Kata-kata ini ditujukan pada diri si anak, bukan pada masalah yang dibuatnya. Mereka juga dianggap pembuat onar, tanpa mengajarkan kepada mereka untuk melakukan hal yang lebih baik. Anak dengan mudah akan merasa bersalah terhadap apa yang dilakukannya.
Pertanyaan, “Kamu kenapa, sih?" adalah pertanyaan retoris yang tak membutuhkan jawaban, karena tidak ada satu pun jawaban yang akan memuaskan. Sebaiknya, pikirkan bahwa anak melakukan sesuatu karena mereka masih anak-anak. Mereka bisa saja capek, lapar, atau hanya ingin mengetes respon Anda. Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkannya demikian.

Cobalah mencari kata lain seperti, “Kayaknya kamu kesulitan menuangkan susu ini. Kita coba cara yang mudah, deh.” Dengan begitu, Anda memberi pesan padanya bahwa siapapun dapat melakukan kesalahan, sekaligus dapat memperbaikinya.
Anda juga bisa menunjukkan dimana kesalahan anak dan bagaimana memperbaikinya, dengan melibatkannya mengatasi masalahnya. Katakan padanya, “Bahaya bermain dengan vas ini, soalnya vas ini terbuat dari kristal. Jika pecah, kamu bisa terluka. Menurut kamu, barang apa, ya yang aman untuk bermain?"

2. “Kamu melakukan hal yang tak berguna.”
Kata-kata ini sama saja dengan kalimat, “Buat apa kamu sedih? Sudahlah, enggak ada gunanya.”
Pernyataan ini menunjukkan sikap tak berempati dan langsung meneror harga diri anak. Bagi anak 3 tahun yang kehilangan balon karena meletus, atau anak 7 tahun yang stres saat mengikuti pertandingan olahraga, musibah kecil bisa menjadi tragedi. Kata-kata adalah ekspresi minimal tentang perasaannya. Anak-anak bisa belajar emosi dan persepi dari kata-kata yang dilontarkan padanya.
Jika balon anak meletus, sebaiknya katakan, “Wah, balon kamu meletus. Bagaimana, ya?” Lalu alihkan perhatiannya pada hal lain. Atau coba katakan, “Ibu tahu kamu sangat kesal. Ibu tahu kamu sudah berusaha. Ibu juga ikut menyesal.” Beri jeda sedikit sebelum menambahkan kata-kata lain, seperti, “Kamu tahu, kan, begitulah sebuah pertandingan. Kadang kita menang, ada saatnya kita kalah. Tapi, kamu bisa melakukan lebih baik lagi nanti. Siapa tahu, kamu nanti jadi pemenangnya.” Kata-kata ini menunjukkan betapa Anda memperhatikan dan membantu mereka mengambil hikmah.

3. “Kenapa, sih kamu enggak bisa lebih baik!”
Ini sama saja dengan kalimat, “Kakakmu anak yang baik. Masa, kamu enggak bisa mendengarkan nasihat Ibu seperti dia?”
Kalimat ini menyakitkan, karena sebetulnya tak seorang pun yang mau dibandingkan. Anak 4 tahun mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Tanpa dicaci-maki, sebetulnya anak tahu siapa yang larinya lebih cepat atau siapa yang akan mendapat ranking atas di kelasnya. Saat Anda mengatakan ia tidak bisa menyanyi sebaik temannya, bisa dipastikan ia akan merasa kehilangan harapan dan tak mau berusaha. Anda hanya akan membuat mereka antipati, bukan menyemangatinya melakukan yang lebih baik.
Begitupun saat Anda membuat perbandingan bahwa kemampuannya sama dengan yang lain, seperti, “Kamu menggambar sebaik Kakakmu.” Itu membuat dia merasa bahwa kakak kandungnya adalah saingannya. Anak-anak sebetulnya sudah tahu siapa saja saingannya, tanpa perlu ditegaskan lagi. Rasanya, orangtua tak ingin memiliki anak yang terlalu ambisius, kan? Maka, jangan jadikan hidupnya semata sebagai pertandingan yang selamanya harus berpayah-payah dan penuh ketegangan karena harus bersaing.

4. “Makanlah satu suap lagi untuk Mama.”
Ini sama kalau Anda bilang, “ Saya sudah mengerjakan seluruhnya demi kamu, ayolah....” atau “Tidak ada orang yang mencintai kamu lebih dari aku.”
Kalimat ini menimbulkan rasa bersalah, dan rasa bersalah ini akan merembet menjadi kegelisahan, ketakutan, kemarahan, atau bahkan dendam. Semua ini membuat anak tak bisa berpikir tenang dan rasional tentang situasi yang terjadi. Sekali saja anak merasakan ketidakhangatan dalam pengasuhan, maka sulit baginya untuk merasa bahagia. Lain kali, lebih baik katakan, “Masih mau sesuap lagi?” Dengan begitu, Anda sudah mengajarkan padanya untuk mengambil keputusan dan mengenali sinyal tubuhnya, apakah ia sudah kenyang atau belum, kemudian meresponnya.
Atau, untuk anak usia 8 tahun misalnya, biarkan ia memutuskan sendiri apakah akan melanjutkan kegiatannya, semisal ikut klub bola, dengan pertimbangan mana yang akan membuat dirinya dan tim puas. Dengan begitu, ia bisa bangga terhadap dirinya, tahu apa yang bisa dikerjakannya, dan belajar betapa pentingnya menyenangkan hati orang.

5. “Kamu selalu merepotkan.”
Kata yang sepadan dengan pernyataan ini misalnya, “Kamu tak pernah mendengar perkataan Mama.” Atau “Kamu selalu membuat Mama telat ke kantor.”
Ingat, melakukan generalisasi dengan menggunakan kata "selalu" atau "tak pernah" merupakan hal yang tidak mengacu pada keakuratan dan kadang-kadang terasa berlebihan. Generalisasi negatif membuat anak merasa kalah, gagal dan tersia-sia. Lebih baik katakan, “Kamu putus asa dan menyerah.” Anak akan mengerti apa yang Anda katakan dan membiarkan situasi itu berlangsung, atau ia malah balik tertantang untuk membuktikan bahwa ia tidak putus ada dan masih bisa berusaha.
Generalisasi juga seperti memperlihatkan seolah-olah ia menjadi kambing hitam atas kesalahan Anda. Sebaiknya, berintropeksi, apakah Anda terlambat pergi ke kantor karena dia atau karena tak bisa mengatur waktu? Lain kali, lebih baik beritahu anak apa yang Anda rasakan. Misalnya, "Kalau kamu berkata kasar pada Mama, Mama jadi sedih, lho.” Atau, “Mama marah, nih kalau kamu belum juga membenahi mainan kamu.” Dengan begitu, Anda lebih memberi fokus pada apa yang terjadi sekarang dan apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaikinya. Jangan mengawali perkataan dengan kata "kamu." Misalnya, “Kamu enggak pernah mau membersihkan kakimu.” Karena itu berarti, Anda memprovokasi permusuhan dengannya.

6. “Mama sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tak pernah melakukannya.”
Ini sama saja dengan bilang, “Mama sudah mengatakan itu jutaan kali.” Anak tahu, kok sudah berapa kali ia melakukan kesalahan. Jadi, jangan terlalu berlebihan. Kalau Anda mengatakan kalimat seperti di atas, ia jadi merasa bodoh dan tidak mampu berkembang. Dengan begitu, ia juga tidak dapat menghargai dirinya bahwa ia bisa dewasa, sehingga ia punya alasan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Wong, dia belum dewasa, kok.
Adakalanya anak ingin bereksperimen, mandiri, dan mencoba sesuatu yang baru. Kalau Anda menghinanya, penghinaan Anda akan membuatnya marah. Ini akan membuatnya malu terhadap apa yang terjadi. Mengatakan, “Tuh, Mama bilang juga apa?” menunjukan bahwa Anda tidak percaya bahwa ia bisa melakukan yang lebih baik.
Lain kali, katakan, “Kamu melakukannya dengan caramu dan akhirnya tak berhasil. Mama tahu apa yang kamu rasakan. Kamu butuh bantuan? Siapa tahu kalau dikerjakan berdua, kita bisa tahu dimana kesalahannya.” Biarkan dia lebih realistis dan katakan tepat pada sasaran.
Kadang-kadang, kita tidak tahu apa yang ia harapkan dari apa yang dilakukannya. Misalnya, anak usia 4 tahun yang menepuk-nepuk lampu terlalu keras untuk membersihkannya. Sebetulnya, ia ingin menyenangkan Anda, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Atau anak 9 tahun yang gagal di ujian terakhirnya lantaran terlalu sibuk mempersiapkan ujian itu selama seminggu penuh. Ia membeli pinsil sendiri, mencari bahan yang harus dibacanya, ditambah masih harus ikutan resital piano.
Jika Anda berkata kasar terus pada anak, maka ucapan Anda mungkin tak akan membuahkan hasil. Malah Anda yang kebingungan, bagaimana membuatnya dekat kembali pada Anda.

7. “Kamu sembrono amat, sih.”
Kalimat lainnya, “ Lihat, deh. Dia mengotori lantai lagi dengan tapak kakinya.”
Kata-kata ini menyakitkan karena memberi anak label sebagai si sembrono, si pemalas, si cengeng dan lainnya, yang membuatnya berpikir bahwa begitulah ia ditakdirkan. Ia merasa menjadi anak yang menyebalkan dan harus dimusuhi. Dengan memberinya “label istimewa” begitu, Anda seperti menilai siapa dirinya dan akan jadi apa dia nantinya. Kalau kata-kata itu terus diucapkan, ia akan percaya bahwa ia memang demikian dan ia tak sanggup untuk mengubahnya. Oh ya, jangan pernah mengatakan hal tersebut di depan orang lain. Ia akan merasa sangat terhina.
Lebih baik katakan dengan tegas apa yang Anda maksud. “Ruangan ini berantakan sekali. Lekas, benahi krayon kamu, ya.” Atau kata yang lebih sederhana. “Ayo benahi krayonmu.”
Anda bisa memberikan perhatian pada anak dengan mendeskripsikan seperti apa dia pada dirinya dan orang lain, dengan memberi nama-nama istimewa yang manis. Memberi nama yang jelek akan diartikan banyak oleh anak dan orang lain. Misalnya si Cengeng bisa berarti ia anak yang sensitif dan suka cari perhatian. Si Liar berarti ia anak yang tak pernah merasa takut dan enerjik. Si Malas artinya kalem dan seenaknya.
Jadi, jika suatu hari Anda tengah stres dan marah, dan keceplosan mengucapkan kata-kata kasar, Anda harus merasa menyesal. Tetapi tak usah sampai terpuruk. Sesekali berkata-kata di luar kontrol masih wajar. Toh Anda manusia yang kadang berbuat salah. Yang terpenting Anda dapat memetik hikmah, kenapa Anda mengatakan itu dan apa sebetulnya yang Anda mau. Segeralah minta maaf pada anak. “Maafkan Mama, ya. Mama tidak bermaksud mengatakan itu, kok. Perasaan Mama sedang tak enak hari ini.” Dengan begitu, Anda mengajari anak bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan ia pun bisa memperbaiki dengan melakukan hal yang lebih baik.

JANGAN MENCELA DIRI SENDIRI
Menceritakan diri Anda kadang bisa membuatnya terluka. Berikut beberapa kata yang bisa mempengaruhinya.
1. Jangan pernah berkata: “Saya gemuk sekali, ya.” Atau “Saya enggak pernah benar.” Atau “Saya tidak bisa memasak.”
Kata-kata ini akan diserap anak. Dia akan menilai perilaku Anda dan apa yang Anda yakini. Saat Anda menilai diri Anda, ia belajar menilai dirinya dengan hal-hal negatif. Lebih baik katakan sesuai situasi yang terjadi. Misalnya, “Kalau Mama pakai baju ini, rasanya Mama harus sering berolahraga.”
2. Jangan katakan, “Kenapa aku selalu ditimpa bencana kayak begini?” atau “Aku enggak pernah beruntung.”
Kata-kata ini memperlihatkan siapa Anda dan mengajarkan bahwa Anda tidak berdaya dan tidak optimis. Bisa jadi anak akan merasa seperti itu juga. Lebih baik katakan apa yang terjadi dan perlihatkan bahwa Anda bisa mengatasinya dengan gemilang. Misalnya, “Sebal juga kalau mobil mogok dua hari. Tapi enggak usah bingung, kita bisa tetap jalan-jalan tanpa mobil itu, kan.”
3. Jangan pernah bilang, “Mama menyesal sekali memotong rambut. Ini tataan rambut paling jelek seumur hidupku.”
Reaksi yang terlalu berlebihan akan mengajarkan pada anak bahwa hal kecil bisa jadi masalah besar. Lebih baik Anda berterus terang dan jangan sembunyikan perasaan Anda. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa tak semua hal berjalan sesuai harapan. Jika tak ingin terus menerus kecewa atau marah, dia harus mencari jalan lain. Jadi, jika Anda kecewa dengan tata rambut baru Anda, lebih baik katakan, “Mama kecewa karena potongan rambut baru ini tidak sesuai. Tapi gel mungkin bisa sedikit membantu.” [nostalgia.tabloidnova.com]

Sabtu, 23 Januari 2010

Tips Motivasi "MARIO TEGUH"

1. Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

2. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

3. Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

4. Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

5. Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan

6. Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

7. Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru

8. Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah

9. Orang lanjut usia yang berorientasi pada
kesempatan adalah orang muda yang tidak
pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi
pada keamanan, telah menua sejak muda

10.Hanya orang takut yang bisa berani, karena
keberanian adalah melakukan sesuatu yang
ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan
punya kesempatan untuk bersikap berani

11.Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang
tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang
anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

12.Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui
mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan
tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan
yang kemudian anda dapat

13.Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara
kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku
seperti orang yang terus memeras jerami untuk
mendapatkan santan

14.Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai
dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan
anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang
yang berbakat

15.Kita lebih menghormati orang miskin yang berani
daripada orang kaya yang penakut. Karena
sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa
depan yang akan mereka capai

16.Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan

17.Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin.
Dengan mencoba sesuatu yang tidak
mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik
dari yang mungkin anda capai.

18.Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.

19.Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa
mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang
baik, maka andalah yang akan dicari uang

20.Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita
mungkin menua dengan berjalanannya waktu,
tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus
mengubah diri kita sendiri

21.Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk
melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi
orang tua yang masih melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan saat muda.

22.Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat
berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita
kaya, tetapi menggunakannya dengan baik
adalah sumber dari semua kekayaan

Sumber :
http://supermilan.wordpress.com/2009/12/15/kumpulan-tips-motivasi-dari-mario-teguh/

Sabtu, 16 Januari 2010

MENGHITUNG PERKALIAN DENGAN JARI


· Tips Trik Matematika

Menghitung Perkalian 6 sampai 10 dengan Jari Tangan

Tips menghitung dengan jari ini sudah cukup lama dan lazim diketahui. Teknik ini bahkan tidak hanya dikenal di Indonesia saja. Tips ini cukup mudah dipraktekkan dan tentu saja cukup praktis, namun keterbatasannya adalah cara ini hanya dapat dipakai untuk perkalian angka 6 sampai 10. Berikut langkah-langkahnya:


1. Gunakan jari anda dengan tiap jari mewakili angka tertentu, kelingking mewakili angka 6, jari manis = 7, jari tengah = 8, telunjuk adalah 9, dan 10 diwakili oleh jempol.

2. Setiap angka yang akan dikalikan ditandai dengan ditekuk/dilipat. Misalnya 7×8 = maka tekuk 2 jari, kelingking dan jari manis di tangan satu dan 3 jari, kelingking, jari manis dan jari tengah di tangan lain(kiri dan kanan sama).

3. Jumlahkan jari-jari yang ditekuk tadi( untuk 7×8 maka jumlah jari yang ditekuk adalah 2+3=5 jari. Kalikan angka ini dengan sepuluh (5×10=50)

4. Kalikan jari yang tidak ditekuk dari kedua tangan (untuk contoh 7×8 diatas adalah: 3×2=6)

5. Jumlahkan angka yang didapat dari poin (3) dan (4), yaitu 50+6= 56.

6. Cobalah untuk menghitung angka-angka lain dengan catatan bahwa angka hanya boleh untuk angka 6 sampai 10.

Untuk Melihat Video pengajarannya: (selanjutnya ......)

Harap diperhatikan bahwa cara ini dipakai hanya untuk mempermudah perkalian. Siswa harus dibekali pemahaman konsep yang benar dan memadai sebelum diajarkan tips-tips semacam ini.


10 Cara Kreatif Mengajar Matematika




Berikut adalah beberapa kegiatan bagi kelas Anda untuk menambahkan sedikit berkilauan dan kreativitas. Sebagai anak-anak bekerja, mengajukan pertanyaan kritis seperti "Apakah kamu mencoba yang ini?" "Apa yang akan terjadi jika?" "Apakah menurutmu kau bisa?" untuk meningkatkan pemahaman anak terhadap ide-ide matematika dan kosa kata.
  1. Menggunakan dramatisasi. Mengundang anak-anak berpura-pura menjadi seperti bola (bola) atau kotak (persegi panjang prisma), merasakan wajah, tepi, dan sudut dan untuk mendramatisasi masalah aritmatika sederhana seperti: Tiga katak melompat dalam kolam, kemudian satu lagi, berapa banyak yang ada di sana dalam semua?
  2. Gunakan anggota tubuh anak-anak. Sarankan bahwa anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan seterusnya mereka miliki. Ketika diminta untuk menunjukkan mereka "tiga lengan," mereka menanggapi protes keras, dan kemudian memberitahu orang dewasa berapa banyak mereka memiliki dan menunjukkan ( "membuktikan") itu.Kemudian mengundang anak-anak untuk menunjukkan angka dengan jari-jari, dimulai dengan akrab, "Berapa umurmu?" untuk menunjukkan angka yang Anda katakan, untuk menunjukkan angka-angka dengan cara yang berbeda (misalnya, lima sebagai tiga di satu sisi dan dua di sisi lain).
  3. Gunakan permainan anak-anak. Melibatkan anak-anak di blok bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk penyortiran, seriating, menciptakan desain simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Lalu memperkenalkan permainan Dinosaur Shop. Menunjukkan bahwa anak-anak berpura-pura untuk membeli dan menjual mainan dinosaurus atau benda-benda kecil lainnya, belajar berhitung, aritmatika, dan konsep uang.
  4. Gunakan mainan anak-anak. Dorong anak-anak untuk menggunakan "adegan" dan mainan untuk bertindak keluar situasi seperti tiga mobil di jalan, atau, kemudian pada tahun, dua monyet di pepohonan dan dua di tanah.
  5. Gunakan cerita anak-anak. Share buku-buku dengan anak-anak bahwa matematika alamat tetapi juga cerita-cerita bagus. Kemudian, membantu anak-anak melihat matematika dalam buku apa pun. Dalam Blueberry untuk Sal, oleh Robert McCloskey (Penguin, 1993), anak-anak dapat menyalin "kuplink, kuplank, kuplunk!" dan kemudian memberi tahu Anda nomor drop perlahan-lahan hingga empat loket menjadi kopi dapat.
  6. Gunakan kreativitas alami anak. Anak-anak ide tentang matematika harus didiskusikan dengan semua anak. Berikut adalah "matematika percakapan" antara dua anak laki-laki, masing-masing 6 tahun: "Pikirkanlah tentang jumlah terbesar Anda bisa. Sekarang tambahkan lima. Lalu, bayangkan jika Anda memiliki banyak cupcakes." "Wow, itu lima lebih banyak daripada jumlah terbesar Anda bisa datang dengan!"
  7. Gunakan kemampuan memecahkan masalah. Mintalah anak-anak untuk menggambarkan bagaimana mereka akan mengetahui masalah seperti cukup mendapatkan gunting untuk meja mereka atau berapa banyak camilan mereka akan diperlukan jika seorang tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau Manipulatif atau apapun yang mungkin akan berguna untuk memecahkan masalah.
  8. Gunakan berbagai strategi. Bawa matematika di mana-mana Anda pergi di kelas Anda, dari pada pagi anak-anak menghitung rapat untuk mengatur meja, untuk meminta anak-anak untuk membersihkan nomor tertentu atau bentuk barang. Juga, menggunakan kurikulum berbasis penelitian untuk menggabungkan sequencing serangkaian kegiatan belajar ke dalam program Anda.
  9. Menggunakan teknologi. Cobalah kamera digital untuk merekam karya matematika anak-anak, dalam permainan dan kegiatan yang direncanakan, dan kemudian menggunakan foto untuk membantu diskusi dan refleksi dengan anak-anak, kurikulum perencanaan, dan komunikasi dengan orang tua. Menggunakan komputer secara bijaksana untuk mathematize situasi dan memberikan instruksi individual.
  10. Gunakan penilaian untuk mengukur pembelajaran matematika anak-anak. Gunakan pengamatan, diskusi dengan anak-anak, dan kegiatan kelompok kecil untuk belajar tentang matematika anak-anak berpikir dan membuat keputusan tentang apa yang tiap anak mungkin bisa belajar dari pengalaman masa depan. Komputer juga mencoba penilaian. Gunakan program yang menilai anak-anak secara otomatis.

Kamis, 14 Januari 2010

UJIAN NASIONAL 2009/2010


A. JADWAL UJIAN NASIONAL

1. UASBN utama dilaksanakan pada minggu pertama Mei 2010


2. UN utama untuk SMA/MA, SMALB, dan SMK

  • Utama : 22 s.d. 26 Maret 2010.
  • Susulan : 29 Maret s.d. 5 April 2010.
  • Ulangan : 10 s.d. 14 Mei 2010

3. Ujian Nasional SMP/MTs dan SMPLB:
  • Utama : 29 Maret s.d. 01 April 2010.
  • Susulan : 5 s.d. 8 April 2010.
  • Ulangan : 17 s.d. 20 Mei 2010

B. MATERI UJIAN NASIONAL
  1. Mata pelajaran yang diujikan pada UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
  2. Mata Pelajaran UN SMP/MTs, dan SMPLB meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

C. KRITERIA KELULUSAN UJIAN NASIONAL
  1. Kriteria kelulusan UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 ditetapkan oleh setiap sekolah/madrasah yang peserta didiknya mengikuti UASBN
  2. Peserta UN SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan UN sebagai berikut:
  • Memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya
  • Khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN
(Download Permen Diknas dan POS tentang Ujian Nasional):
  1. Permen 74 tahun 2009 : Tentang UASBN SD/MI
  2. Permen 75 tahun 2009 : Tentang UN SMP/MTs SMA/MA SMK
  3. Permen 76 tahun 2009 : Tentang UN PAKET C KEJURUAN
  4. Permen 77 tahun 2009 : Tentang UN PAKET A, B, C
  5. POS UASBN , POS UN SMA/MA dan POS UN SMP MTs SMK Tahun Pelajaran 2009/2010

Senin, 11 Januari 2010

10 CIRI GURU PROFESIONAL


1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran :
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik:
seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.
5. Bisa berkomunikasi dengan baik terhadap Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.
6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Mengetahui pengetahuan mendalam tentang Kurikulum

Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Menguasai pengetahuan tentang subyek yang diajarkan

Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran

Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa

Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.
tags: ,
Sumber: http://gurukreatif.wordpress.com/2009/11/06/10-ciri-guru-profesional/